Posts filed under ‘ARTIST PUBLICITY MANAGEMENT




12 Tahun Berkelana di Asia akhirnya Jatuh Cinta pada Indonesia

balikpapan_06Bule asal Amerika ini ternyata sudah tinggal lebih dari 12 tahun di Asia. Negara pertama yang ia tinggali adalah Taiwan. Selama 2 tahun, ia tinggal di Taipe untuk mengajar bahasa Inggris sambil belajar bahasa Mandarin. Selama tinggal di Taipe, ia sering menyempatkan diri berkeliling Indonesia sebagai turis. Jason mengaku jatuh cinta pada Indonesia dan akhirnya memutuskan untuk menetap di Jakarta.

Di Jakarta ia mengajar bahasa Inggris dan tentunya sambil belajar bahasa Indonesia juga, karena ia sangat tertarik untuk mempelajari berbagai macam bahasa. Namun kali ini selain mengajar, sejak tahun 2002 ia juga mulai mencoba bakatnya di bidang akting. Debutnya adalah menjadi tokoh berkebangsaan Belanda untuk sebuah program TV yang mengambil setting jaman panjajahan Belanda di Indonesia.

Setelah itu ia tampil di program “Bule Gila” sebagai tukang becak, kemudian di program reality show “Turis Dadakan” sebanyak 30 episode. Jason mengaku sangat menikmati pembuatan acara ini karena ia berkesempatan untuk keliling Indonesia. Program lainnya yang ia pernah tampil adalah “Tawa Sutra” dan beberapa FTV serta sinetron “Upik Abu dan Laura” bersama Cinta Laura.

Program terbaru Jason adalah “Walk the Talk”, sebuah program menarik yang menurutnya mampu menggabungkan antara sisi edukasi dan entertainment. Shooting Program ini sangat mengesankan karena berinteraksi dengan masyarakat indonesia secara langsung di berbagai kota. Dalam “Walk The Talk” Jason dapat menggabungkan pengalaman mengajar dan membawakan acara televisinya.

“Walk the Talk” akan ditayangkan setiap hari Minggu pukul 10.00 WIB, mulai 26 April 2009 di Trans 7. Jadi jangan sampai terlewatkan!…

Informasi : Nuril Rachman (Facebook)

logo

Add comment May 14, 2009

Bintang Iklan Si Bujang Medan

 meidian-2.jpg

Jadi bintang iklan tidaklah gampang. Perlu perjuangan panjang. Itulah yang dialami Meidian Malladi, bujang Medan kelahiran 6 Mei 1986. Lelaki yang bisa juga dipanggil Dian atau Maydi ini harus mengikuti beberapa kasting sampai akhirnya dia terpilih untuk membintangi beberapa iklan di layar televisi. Di antaranya adalah:  iklan Piero bersama Nirina Zubir dan Hengky Kurniawan. Lantas, iklan permen Lovy, Ting-Ting Garuda Okky Jelly Drink, dan yang terbaru adalah Nesvita, bahkan prestasi teranyar yang ia raih adalah bermain di film layer lebar produksi Multivision (Pulau Hantu 2) dan Produksi terbaru MD yang masih di rahasiakan judul nya.

Meski sukses sebagai bintang iklan, Maydi mengaku perlu kerja keras untuk bersaing menapaki karir yang digelutinya itu. Apalagi dia sebagai anak rantau, harus benar-benar percaya diri menghadapi dunia model di Ibu kota. Persaingan di Jakarta sangat ketat, dan saya sangat merasakan itu,” ujar lelaki berkulit putih dan berambut agak ikal ini.

Casting demi casting ia jalani dengan penuh semangat. Namun hasilnya belum ada yang memuaskan. Justru ia melihat bahwa orang lainlah yang sukses dan bertambah sukses. hal tersebut sempat membuat Maydi minder dan merasa pesimis dengan peruntungannya di Jakarta.

Sebelum jadi bintang iklan televisi, Maydi memang remaja cukup berprestasi sewaktu di Medan. Awalnya dia terpilih sebagai pemenang dalam ajang Duta Sumatera Utara, tahun 1999. Berawal dari ajang tersebut, Maydi kerap mengikuti berbagai event atau perlombaan model. ”Alhamdulillah setiap saya ikut event atau perlombaan, saya selalu menang, entah itu juara 1, 2 atau 3,” imbuh Maydi.

Kesuksesannya di dunia model bertambah lagi ketika ia dinobatkan sebagai juara 1 Wajah Revlon di Medan, hingga ia mewakili kota itu dalam ajang yang sama di tingkat nasional ajang yang diselenggarakan di Jakarta. Pada ajang ini,  Maydi terpiih sebagai juara ke-2 sekaligus terpilih sebagai duta persahabatan. Lantas, Maydi mencoba-coba mengikuti pemilihan wajah Top Guess majalah Aneka. Dalam ajang tersebut, ia dinobatkan sebagai juara 2. Dari situlah Maydi semakin percaya diri terjun di dunia entertaintment sampai akhirnya dia memutuskan hijrah ke Jakarta, sejak tahun 2005.

 

Publicist  : Oky Zayyd

Senimata Kreasi Komunika

021 9299 5700

www.SENIMATA.com

2 comments March 30, 2008

Rico Michael Bradley | Filantropi Indonesia

rico.jpg

Lupakan sejenak Steven Spielberg, James Cameron, atau Kevin Costner. Sekarang saatnya kita tahu sosok Rico Bradely

Muda, kaya, wajah indo, berpostur jenjang, fighter spirit, berkepribadian unik dan kharismatik. Tapi siapa sangka laki-laki bernama lengkap Rico Bradely yang sekarang menjabat sebagai Produser ILUMINATI PICTURE ini, mempunyai cita-cita besar ingin menjadi sumber inspirasi bagi anak muda Indonesia?

Berguru pada masa lalu. Demikianlah kata-kata bijak untuk menggambarkan sosok Rico di sela-sela kesibukannya mempersiapkan pemutaran film perdananya berjudul ”ENAM” masih menyempatkan diri untuk menceritakan keterlibatannya di film itu kepada Editor-in-Chief Oky Zayyd. Intelligent behaviour-nya yang tinggi, semangat bicaranya yang menggebu-gebu tapi terkesan ramah dan penuh arti, memancing rasa penasaran untuk mengorek sosok Rico lebih dalam. Alhasil, wawancara yang dijadwalkan hanya 10 menit ahirnya berlangsung hingga 45 menit. Lahir di Jakarta, 1974, masa remaja Rico bisa dibilang penuh lika-liku dan mengalami banyak rintangan. Selama 3 tahun ketergantungan pada narkoba, bukanlah perkara mudah bagi Rico untuk melepaskan diri dari jeratannya. “Guwe berangkat dari pengalaman yang buruk. Bukan dari orang yang dulu hidupnya putih. Ketika guwe sudah sembuh dan bersih dari drugs, guwe mempunyai misi ingin membuat anak-anak muda Indonesia bangkit. Sesungguhnya kegagalan itu bukan diukur dari ketika orang itu gagal dan jatuh. Tapi kegagalan itu jika kita tidak pernah bangun lagi sama sekali,” ungkap Rico, diselingi logat Inggris yang sangat fasih. “I wanna be friend for every body. Guwe ingin bicara dengan orang-orang yang punya passion, tapi mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat. Orang-orang yang sebenarnya punya second chance. Punya potensial. Dan meyakini bahwa Tuhan itu ada.” Tegasnya lagi, “We have to build some thing!

Pembicaraan terhenti sebentar, ketika telfon di meja kantornya berdering. Rico berbicara di telfon dengan salah satu client-nya dengan karakter yang sama. Intelligent behaviour yang tinggi, semangat bicara yang menggebu-gebu tapi terkesan ramah dan penuh arti. Menurut Rico, anak-anak muda sekarang ini butuh seorang mentoring. Dan mentoring itu tidak harus datang dari orang-orang famous. Tapi orang yang punya hati dan mau membimbing. Mentoring itu sesuatu yang harus sukarela dan sanggup mencetak generasi yang benar-benar kuat bukan lagi generasi yang kelaparan. Karena Bangsa Indonesia sekarang ini berada dalam jembatan moral yang sangat curam. Jika kita salah sedikit saja melangkah, maka habislah sudah. Tragedi penjarahan kedua akan bangkit lagi. Semua harga-harga naik. Segala macam cara akan dihalalkan agar bisa mendapatkan uang. Dan yang patut disayangkan, hanya beberapa gelintir orang saja yang mau berjuang pergi pagi pulang malam kerja, dan berpikir bagaimana menyelamatkan yang lain dari kata menganggur.

Seperti prinsip filantropi, mungkin semacam itulah yang Rico maksud. Kita butuh sosok seperti Rahmat Gobel, Arifin Panigoro, Putra Sampoerna, dikDoank, dan sederetan filantropi lainnya. Orang-orang yang kaya harta dan kaya hati. Orang-orang yang mau berbagi. Orang-orang yang toleran terhadap semua agama dan tidak menyeleksi dari mana orang itu datangnya. Semua dapat tempat. Semua harus dicatat.

Ketika disinggung apakah film pertamanya berjudul ”ENAM” ini ada hubungannya dengan kisah hidupnya, Rico hanya tersenyum renyah. Diam sebentar. ”Mungkin sosok Erik di film ini guwe banget. Sikap egois yang mau menang sendiri dan tidak mau mendengarkan orang lain. Sosok guwe ketika belum berubah dan masih tergantung pada drugs,” jawab Rico. Sesekali sorotan matanya menerawang tajam, mengingat-ingat masa lalunya.

Keinginan Rico untuk membangkitkan gerakan-gerakan anak muda Indonesia yang berpotensi, bukanlah hanya isapan jempol belaka. Buktinya beberapa pusat rehabilitasi di kota Jakarta sudah disambanginya. Komunitas-komunitas di pinggir jalan, anak gelandangan, dan kaum termarjinalkan lainnya, rasanya tidak terlepas dari pantauan Rico. Setelah proyek film pertamanya berjudul ”ENAM” selesai, Rico bersama teman-temannya akan mendirikan rumah produksi dan sebuah sanggar yang nantinya bisa menampung semua aspek kreatifitas kesenian. Film, teater, tari, musik, sastra, penerbitan buku, dan segala sesuatu hal lainnya yang berguna untuk kemaslahatan orang banyak. Yang pasti membangun sebuah karya yang bisa diterima skala internasional. Karena kita tidak bisa membikin karya yang bagus tanpa standar yang jelas. Di luar negeri, ada standar sendiri untuk pengakuan sebuah karya. Dan kita tidak bisa menawarkan ke mereka dengan standar kita. Kata Rico, ”guwe ingin Negara Indonesia ini mempunyai prinsip yang kuat. Walaupun cobaan itu ahirnya keras, tapi setidaknya prinsip itu nantinya yang bisa kita pakai untuk sebuah identitas sebuah Negara. Guwe ingin suatu saat berpenampilan kayak James Bound….. he, he, he….”

Selain pernah bekerja di MGM, Product Trailler di STIGMATA, produser iklan, juga sebagai salah satu pendiri CBN, laki-laki yang gemar mendalami filosofi Soekarno dan Hatta ini menghimbau kepada anak muda yang sudah terlanjur terjerumus ke lingkaran drugs agar segera bangkit dan melepaskan diri dari jeratan obat-obatan terlarang itu. Begitu juga dengan orang tua agar tidak terlalu mengisolasikan anaknya. Karena kita sadari (mau tidak mau) setiap orang pasti mempunyai addictive personality dalam dirinnya. Persoalan yang sulit adalah bagaimana kita menjadi jembatan bagi mereka agar bangkit dari keterpurukan dan merubah addictive personality menjadi jalan keluar yang positif. Karena tidak ada orang yang terbaik di dunia ini. Semua orang sama. Bedanya ada orang yang punya akses. Dan orang yang tidak punya akses. Tidak ada orang yang punya hak untuk bilang bahwa mereka adalah yang terbaik. Segala sesuatu hal di dunia ini pasti ada korelasi dari mereka ke kita. Dari kita ke atas. Dari atas ke mereka. Begitulah seterusnya. Tidak ada habis-habisnya. Di mana hukum alam dan kekuasaan Tuhan begitu tertata dengan rapi dan sempurna. Dan tugas kita, hanya sebagai jembatan atau penyalur bagi mereka.

Oleh karena itu, ketika di Indonesia banyak anak muda yang mempunyai potensial tinggi, tapi semua hal yang mereka lakukan terhambat karena dua hal. Pertama, keuangan. Kedua, tidak adanya koneksi orang yang tepat dan kurangnya pengarahan yang benar, maka Rico mempunyai misi dan visi untuk menjembatani dua masalah itu. Rico ingin membawa anak-anak muda Indonesia untuk berkarya dan melahirkan patriot-patriot baru di bidang film, teater, akting, penulisan, tari, dan patriot-patriot seni lainnya berskala Internasional.

Jangan bertanya apa yang bisa diberikan Negara kepada kita. Tapi bertanyalah apa yang sudah kita berikan untuk Negara kita.

Good luck, Rico…!

Publicist : Sujud

Senimata Kreasi Komunika

021 916 161 08

1 comment March 5, 2008

Pay | Memilih Bergerak di Belakang Layar

Senimata, Lelaki kelahiran Medan, 2 Mei 1970 ini sepertinya sudah ditakdirkan lahir untuk musik. Sebelum kupingnya disodori bermacam jenis suara ia sudah mendengar musik lebih dulu. Hal ini karena tradisi bermusik yang kental di keluarganya. Paman-pamannya merupakan penyanyi terkenal di Medan. Tidak heran, ini pula yang menempa Pay begitu jatuh cinta pada musik.

Saat kecil di Medan dulu, Pay sempat menggandrungi lagu-lagu Rhoma Irama. Masuk sekolah menangah pertama, Pay makin menyadari dirinya tak memiliki bakat lain di luar musik. Maka dari situ ia pun membentuk band bersama kawan-kawannya. Entah sudah berapa banyak ia keluar masuk grup band.

Usai menyelesaikan SMA-nya di Medan, Pay kembali ke Jakarta. Tak lama setelah itu, sekitar awal 1990-an Pay bergabung dalam grup band Slank. Sayangnya enam tahun kemudian Pay keluar dari band legendaris itu. Saat itu Slank baru menelurkan album kelima. Sekeluar dari Slank Pay sempat menelurkan album solo. Selebihnya ia mengarap musik untuk sederet penyanyi kenamaan. Sebut saja Nicky Astria, Mendiang Andi Liani, dan Anang Hermansyah.

Dalam bermusik Pay cenderung mengalir begitu saja. Baginya bermusik sama dengan bernafas. Ia tidak terlalu memikirkan karyanya bakal sukses di pasar atau tidak. Baginya yang penting berkarya dan bahagia. Baginya bermusik tidak harus laku di pasar dan menjadi terkenal.

Satu hal yang paling dikhawatirkan Pay adalah kehilangan mood. Ia pernah merasa frustasi ketika menghadapi situasi mati gaya seperti itu. Kini ia memiliki kiat jitu menghidupkan mood terus menerus. Tidak lelah dan terus mencintai musik.

Setelah cukup lama malang melintang di belantara industri musik Indonesia, Pay kini cenderung lebih asyik bermain di balik layar. Mencari dan memupuk grup-grup band baru yang berpotensi. Saat ini setidaknya Pay tengah mengasuh tiga grup band baru. Antara lain Nineball yang belum lama ini merilis album perdana mereka. Dalam merekrut band-band baru untuk dibinanya, Pay memiliki kriteria. Yang paling utama buat Pay, adalah konsistensi, militansi personilnya, dan memiliki spirit yang jelas.

Sejak enam tahun lalu Pay bersama istrinya Dewiq, pembuat lagu, membangun studio musik sendiri di bilangan Cempaka Putih. Di sanalah ia bekerja membina dan melahirkan sejumlah grup band-grup band baru, di samping menangani musik sejumlah musisi seperti Ari Lasso, Once dan Titi Kamal.

Publicist : Acay

Senimata Kreasi Komunika

021 916 161 08

Add comment March 4, 2008

Meidian Malladi | Kebersahajaan membawa sukses

med.jpg

 

Namanya memang belum banyak dikenal banyak orang saat ini, namun dengan bakat dan kemampuan yang ia miliki, menjadikan dirinya layak untuk diperhitungkan dalam dunia hiburan Indonesia. Bagaimana tidak, di tengah usianya yang masih muda, Meidian  telah banyak menghiasi layar kaca dengan membintangi beberapa judul sinetron serta iklan. Bahkan dirinya juga mendapatkan kontrak eksklusif dari MD Entertainment beberapa waktu lalu. Namun bagi pria asal medan ini, status keartisannya tidak serta merta membuat dirinya merasa besar, justru dengan semua yang telah ia capai, membuat dirinya “keluar” sebentar dari dunia yang membesarkan dirinya, dan kemudian kembali lagi untuk memberikan yang lebih baik lagi untuk dunia yang ia cintai ini. Kali ini dan di titik inilah ia kembali untuk memberikan semua yang terbaik dari dirinya.

Meidian tumbuh dan besar dari keluarga yang berkecukupan di utara pulau sumatera. Akan tetapi hidup yang serba berkecukupan baginya bukanlah nilai yang justru ia rasakan dari keluarganya, bahkan hingga saat ini.”Gue selalu merasa kesederhanaanlah yang  justru muncul dalam kehidupan keluarga gue, karena gue selalu dibentuk untuk memberikan rasa kebersamaan dalam keluarga.” Tukas anak pertama dari 4 bersaudara pasangan Malladi Ahmad dan Anita ini. Rasa kebersamaannya itu sendiri, ia akui tumbuh dan berkembang berkat kepiawaian sang bunda dalam menjalin keakraban dengan seluruh anggota keluarganya.

Dan bukanlah hal yang tidak mungkin, seorang “Bujang Medan” yang identik dengan didikan keluarga yang keras ini sangat dekat sang bunda. Baginya, dengan sang bundalah ia dapat melabuhkan keluh kesahnya. Di depan sang bunda, pria kelahiran medan 6 Mei 1986 ini menjadi seorang anak lelaki yang polos dan sangat terbuka. Segala hal yang menerpa dan menghigapi kegalauan dirinya, dengan secara lugas dan terbuka ia ceritakan kepada sang bunda.  

Diakui oleh Dian (panggilan akrab Meidian) dulunya ia adalah anak yang nakal dan suka melawan kepada orang tua, terutama sang bunda. Akan tetapi, justru dengan kenakalan dirinyalah menjadikan moment awal kedekatan dirinya dengan sang bunda. Suatu ketika sang bunda menangis akibat ulah yang dilakukan oleh Dian serta adiknya yang suka melawan, sang bundapun menangis karena ia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghadapi ulah kedua anaknya itu. Namun di saat Dian melihat air mata sang bunda menetes dari kedua matanya, Dian menyadari bahwa sesungguhnya bukan hanya kenakalan dirinyalah yang membuat sang bunda menangis, akan tetapi sebuah masalah yang lebih berat dari hal tersebut, namun Dian merasa tidak tahu harus bercerita dan mengadu kepadia siapa.

Akhirnya, Naluri dan perasaan dirinya sebagai seorang kakak dan anak yang paling dewasa membawa dirinya pada sebuah kesimpulan bahwa sang bunda sedang membutuhkan tempat perlindungan. Dan seketika itu pula ia berusaha memberikan perlindungan tersebut. Alhasil, apa yang ia pikirkan adalah benar. Sejak saat itulah Dian merasa sangat dekat dengan sang bunda, hingga pada akhirnya ia merasa bahwa sang bundalah yang paling sabar dan mengerti karakter dari dirinya. Dan saat ini, ia sering merasa kesepian jika tidak sedang dekat dengan sang bunda.

Bagaimana dengan sang ayah ? apakah ia juga dekat dengan sosok seorang ayah ? Ayahnya adalah seorang pekerja keras yang juga memiliki darah seni yang kuat. Dan dari sang ayah mengalir darah seni ke diri Dian. Namun hal tersebut tidak membuat dirinya dekat dengan sang ayah, justru dengan memiliki persamaan dan pengetahuan tentang seni yang sama membuat dirinya sering berbeda pendapat. “Gue termasuk orang yang keras kepala, kalau gue dibilangin dengan cara yang salah gue ga akan pernah nurut,” imbuh pria yang memanfaatkan waktu luangnya untuk berolah raga seperti fitness, football dan bowling ini. Namun, nilai-nilai kedisiplinan dan kerja keras sangat diterapkan oleh sang ayah, dan hal tersebut sangat ia rasakan dewasa ini. Untuk itu Dian merasa sangat bangga memiliki kedua orang tua yang mengajarkan banyak hal. Terlebih ketika ia mulai menapaki karirnya sebagai entertainer. Motivasi dan dukungan kedua orang tuanya yang membuat ia dapat bertahan, walaupun di tengah kesulitan-kesulitannya dalam menapaki awal karier di dunia entertaint.

Sang ayah yang merupakan seorang pemain teater dan musisi, mengajarkan banyak hal tentang seni, namun Dian tidak serta merta menyamai apa yang dijalani sang ayah, entah itu bermain teater atau apapun. Namun Dian memilih Drum sebagai saluran dirinya bermain musik. Menjadi musisi juga diimpikan oleh Dian, namun modeling dan aktinglah yang membuka jalan bagi Dian dalam perjalanan karirnya. Bermula ketika dirinya terpilih menjadi duta Sumatera Utara di tahun 1999. Berawal dari ajang tersebut, Dian kerap mengikuti berbagai event atau perlombaan model, dan sangat jarang sekali ia tidak mendapatkan tempat 1, 2, atau 3.”Alhamdulillah setiap gue ikut event atau perlombaan gue selalu menang, entah itu jura 1, 2 atau 3,” jelas Dian.

Kesuksesannya lagi mulai bertambah ketika ia keluar sebagai juara 1 wajah reflon di medan, hingga ia mewakili kota Medan untuk ajang tersebut di Jakarta. Keberuntungan Dian ternyata berlanjut sampai ke Jakarta, ia terpiih sebagai juara ke-2 dan ia juga terpilih sebagai duta persahabatan. Merasa peruntungannya yang kian menanjak, kemudian ia mengikuti pemilihan wajah Top Guess Aneka. Dalam ajang tersebut, ia mendapat peringkat ke-2. Disaat itulah Dian merasa bahwa disinilah ia akan menaikkan karirnya di dunia entertaintment, dan mencoba untuk mengembangkannya. Maka hijrahlah Dian ke Jakarta pada tahun 2005.

Berbagai kesuksesan yang ia bayangkan di Jakarta, ternyata ia harus kubur untuk menghadapi kenyataan bahwa tidak mudah menjajaki karir di Jakarta.”Persaingan di Jakarta sangat ketat, dan gue sangat merasakan itu,” tambah Dian. Casting demi casting ia jalani dengan penuh semangat, namun hasilnya belum ada yang memuaskan. Justru ia melihat bahwa orang lainlah yang sukses dan bertambah sukses, dan hal tersebut membuat dirinya minder dan merasa pesimis dengan peruntungannya di Jakarta.

Namun ada sebuah keyakinan yang sangat ia tekankan di dirinya saat itu, adalah selama dirinya masih mau berusaha dan mencoba dengan sebaik-baiknya, pasti apa yang ia harapkan dapat dikabulkan.” Yang pasti gue harus memiliki kesabaran yang tinggi untuk menunggu dan berusaha dengan baik,” tukas Dian. Tetapi dengan kesabaran yang penuh tadi, kesuksesan yang ia harapkan belum juga datang. Bahkan ketika itu ia harus rela kehilangan Hand Phone di atas sebuah bis kota, ia dihipnotis hingga semua uang yang ada di dirinya harus ia relakan. Sebuah perjalanan yang menyedihkan.  

Dan pada akhirnya, kesabaran yang ia jalani selama ini membuahkan hasil yang manis bagi perjalanan karirnya. Tawaran iklan pun mulai berdatangan baginya, dan yang paling pertama ia membintangi iklan Piero bersama Nirina dan Hengky Kurniawan. Dan setelah itu ia mulai membintangi berbagai iklan seperti iklan permen Lovy, Ting-Ting Garuda (4 Versi Sekaligus), Okky Jelly Drink, dan yang terbaru adalah Nesvita.

Tidak hanya membuahkan hasil di dunia iklan, Dian juga merasakan buah keberhasilannya di dunia sinetron. Karirnya di dunia sinetron dimulai ketika ia mendapatkan pemeran pembantu dalam sinetron ABG 2. Dan kepiawaiannya dalam berakting mengundang 2 buah rumah produksi sekaligus yang menawarkan dirinya untuk kontrak eksklusif, yaitu Multivision serta MD Entertaintment.” Alhamdulillah saat itu gue diberi kesempatan untuk memilih diantara dua pilihan yang kedua-duanya adalah pilihan yang baik.” Jelas Dian.

Akhirnya pilihan Dian jatuh kepada MD Entertaintment sebagai tempatnya berkreasi dan mengerahkan segala kemampuan beraktingnya. Sebanyak lebih dari 130 episode, Dian berakting dalam sinetron “Dia”, dan juga “Siti Nurbaya”.”Gue juga sangat bersyukur, apa yang gue hasilkan selama itu bisa gue berikan kepada adik dan keluarga gue, dan itu membuat gue bangga,” tukas pengidola Nicole Kidman dan Nicholas Cage ini.

Namun apakah selamanya ia akan menapaki dunia hiburan ? Ia sadar dengan sepenuhnya bahwa karir di dunia hiburan tidak akan bertahan selama sesuai dengan apa yang inginkan, untuk itu ia mengaku tetap menjalankan beberapa usaha yang dapat menunjang kehidupan dirinya nantinya.

Untuk urusan cinta, baginya bukanlah hal yang sangat mendesak kehidupannya. Pertemananlah yang sangat ia junjung tinggi saat ini.”Gue sangat menghargai pertemanan, di awal karir gue juga banyak teman yang membantu gue, mulai dari informasi casting dan banyak hal lainnya,” ungkap Dian yang mengaku paling tua dan yang lebih suka memberi masukan ke teman-temannya.

Tetapi dikatakan jujur olehnya, ia sangat mendambakan pendamping hidupnya nanti memiliki kesabaran seperti kesabaran yang dimiliki oleh sang bunda.”Gue juga mau ribet, kulitnya yang penting bersih, entah dia putih atau sawo matang. Tapi satu yang gue impiin, istri atau pendamping gue nanti, gue pengen dia bisa setabah nyokap gue yang bisa sabar dan tabah dalam kondisi apapun,” tambah Dian yang memiliki kebanggaan atas bulu-bulu yang tumbuh di tubuhnya.

Pada Sebuah proses panjang telah dijalani oleh Dian. Mulai dari gugup ketika menghadapi kamera untuk pertama kalinya, sampai ia telah terbiasa dan senantiasa Percaya Diri akan kemampuan dirinya. Saat ini, Dian tengah menapaki sebuah kebangkitan besar dalam jenjang kariernya di dunia hiburan, ia bangkit dan kembali dengan kemampuan yang lebih besar dan memanfaatkan segala kesempatan yang datang pada dirinya. Bahkan dirinya tengah merencanakan untuk menembus dunia layar lebar dan juga sedang mencoba peruntungan dalam dunia musik, untuk itu kini ia tengah berlatih vokal. Dan nantinya ia berharap apa yang ia kerjakan dan niatkan sekarang ini dapat bersinergi dengan baik demi kebahagiaan orang-orang yang setia mendukung perjalanan hidupnya. Dan Tahun ini adalah tahun kebangkitan karir dan kerja kerasnya.

 

Publicist  : Zie

Senimata Kreasi Komunika

021 916 161 08

Add comment March 4, 2008

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Posts by Month

Posts by Category