Tali Pocong Perawan | Jadi Pocong Karena Salah Kaprah

Ketika bebearapa rumah produksi beralih trend dengan mencoba peruntungan dengan memproduksi film bergenre religi, rupanya Maxima Picture masih penasaran dengan tetap mencoba peruntungan dengan masih memproduksi film-film bertema horor mencekam. Setelah “Lewat Tengah Malam” (2007) cukup sukses menyedot penonton, kali ini rumah produksi yang dimotori Yoen K ini mengangkat tema urban legend seputar POCONG bertajuk “Tali Pocong Perawan”

Cerita film ini diawali dengan kegaduhan di kampus, ternyata ada seorang yang mati gantung diri. Adegan berikutnya muncul seorang wanita sexy bertubuh tinggi (Catherine Wilson) sedang berjalan melenggok menyusuri jalan disebuah perkantoran. Film ini diawali dengan teknik gambar yang menawan. Nampaknya Arie Azis mantan Astrada Nayato ini cukup piawai menyerap ilmu dari sang sutradara “Ekskul” yang kontroversial dan misterius itu, sehingga ketika saya menonton “Tali Pocong Perawan” saya merasa sangat termanjakan dengan teknik colour grading yang cukup kontras pada gambar di awal film itu, sayang telinga saya tidak ikut termajakan dengan scoring yang baik.

Sebenarnya saya berharap mendapatkan sesuatu yang lebih ketika saya di undang rekan saya untuk preview film ini, terutama dari materi cerita yang tidak “basi” dari sebuah horror filick yang saya tonton ini. Ternyata saya agak kecewa dengan cerita di film ini yang menurut saya sangat tidak ada yang istimewa selain teknik gambar dan warna yang cukup baik. Point of view tidak jauh dari unsur dendam dan bunuh diri. Mungkin jika tidak menghadirkan adegan-adegan panas antara Dewi Persik dan Ibnu Jamil, film ini bakalan tidak akan bertahan lama di studio 1. Ya…..menurut saya yang dijual dari film ini masih sangat konvensional yaitu sex, horror mencekam dengan scoring yang mengagetkan dan sedikit komedi. Saya tidak melihat satu pun pesan yang ingin disampaikan dalam film ini kecuali “jangan ambil tali pocong perawan nanti kamu kena akibatnya”

Nino 24 tahun (Ramon Y. Tungka), cowok pendiam yang tidak pernah bergaul. Sehari-hari hanya berkutat di kamar nya sambil surfing internet, latar belakang keluarga Nino tidak diceritakan dalam film ini. Diam diam, Nino sangat mencintai Virni, 19 tahun (Dewi Persik), cantik dan seksi, pacar Aldo, 20 tahun (Ibnu Jamil), adik nya Nino. Perasaan cinta ini makin lama tumbuh menjadi keinginan untuk memiliki. Maka Nino pun mencari cara untuk bisa mendapatkan Virni. Nino mendapat cara dari sebuah website di internet yang menjelaskan tentang pelet yang mewajibkan seseorang untuk mengambil tali pocong perawan yang meninggal sebelum empat puluh hari.

Adegan pengambilan tali pocong dikuburan yang dijaga oleh 2 orang penjaga sangat tidak masuk akal, kenapa 2 orang penjaga kuburan itu sama sekali tidak terjaga ketika Nino menggali kuburan menggunakan sekop. Akhirnya Nino berhasil membawa pulang tali pocong perawan tersebut, namun setelah mencoba ritual pelet, Nino tidak berhasil memiliki Virni. Nino geram dan memusnahkan tali pocong perawan dengan membakar nya. Malang nasib Nino, setelah memusnahkan tali pocong tersebut Nino diteror oleh hantu pocong hingga akhirnya Nino tewas. Adegan-adegan mencekam namun mudah ditebak dimulai dengan penampakan hantu pocong dan scoring yang memekakan telinga.

About senimata

SENIMATA KOMUNIKA adalah sebuah lembaga independen yang bergerak dalam jasa pelayanan marketing, komunikasi dan media. Kami telah berkecimpung dalam aktivitas media relations, tidak hanya dalam masalah jurnalistik, kamipun merambah jalur IT Consultant, Press /Exhibition Organizer, Communication Strategic, Film Publicist, Exhibition dan Sponsorship Consultant. SENIMATA KOMUNIKA didirikan secara resmi 5 Oktober 2007 oleh M. T. Rachman (Oky) dan Yogi R Yogaswara. Oky dan Yogi berlatar belakang Public Relations, Marketing Communications, Media dan Jurnalistik. Sebelumnya, Oky adalah CEO dan pemimpin redaksi sebuah majalah dan situs film serta Yogi adalah Managing Editor dan Creative Director sebuah majalah film & broadcast. Pada perkembangan selanjutnya, SENIMATA KOMUNIKA kian kukuh dengan bergabungnya Arsyadi Agustian dan Mahendra Lazuardi. Arsyadi berpengalaman dibidang Creative Concept, Sponsorship Consultan dan Marketing Strategy. Sedangkan Mahendra berpengalaman di Komunikasi Visual, Animasi, Design, LAN Network, dan Software Development. SENIMATA KOMUNIKA didirikan atas dasar kebutuhan berbagai pihak/lembaga/badan usaha untuk mengkomunikasikan brand produk, jasa serta individu ke masyarakat luas dengan menggunakan beragam media. SENIMATA KOMUNIKA membantu Anda juga dalam strategi komunikasi untuk mencapai segenap tujuan dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya. Salam Hangat, SENIMATA KOMUNIKA “All About Marketing Communications, Media, & Film”

Posted on May 3, 2008, in Review Film and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Saya malah merasa tidak ada yang istimewa sekali dari film ini. Sinematografinya pas-pasan,termasuk teknik colouring seperti yang anda maksud. Satu satunya yang mencekam dari film ini hanya teknik Dewi Persik dan belahan dadanya…total horor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: