Category Archives: Review Film

Now Showing : A semi-biopic of Bruce Lee “The Legend Of Bruce Lee

Sebagai anak muda, Bruce Lee tidak memiliki hasrat untuk belajar, bahkan saat itu Bruce terobsesi untuk memmpelajari seni bela diri Kung Fu. Suatu saat Bruce mengalami kekalahan ketika berkelahi dengan seorang preman jalanan, hal tersebut membuat Bruce memutuskan untuk mempelajari Kung Fu dibawah pengawasan seorang guru Yewen.

Bruce selalu membela kaum yang lemah maka Ia selalu menjadi target kekerasan para preman jalanan. Karena kondisi tersebut dan tanpa ada pilihan lain maka Bruce memutuskan untuk pergi ke Amerika. Setelah menjalani perjalanan panjang akhirnya Bruce sampai di Washingtong dan menemukan sebuah perguruan Kung Fu dan bertemu dengan seorang wanita bernama Linda. Mereka bersahabat, Linda sangat mendukung Bruce dalam perjalanan mendirikan perguruan Kung Fu.

Sementara itu, kesusksesan perguruan Kung Fu yang dibangun Bruce dan Linda mengundang perhatian perguruan lain untuk bertarung. Namun pertarungan selalu dimenangkan oleh Bruce dengan Kung Fu-nya. Keadaan tersebut membuat perguruan Bruce dan Linda semakin berkembang dan terkenal

Penampilan yang luar biasa Bruce ketika mengikuti kejuaraan nasional Karate terekam kamera oleh seorang produser dari Hollywood bernama George. Saat itulah kali pertama karir Bruce di dunia perfilman dimulai. Dengan Bantuan George, Bruce masuk ke Hollywood sebagai actor. Perjalanan karir Bruce sebagai actor cukup membanggakan karena film-film yang dibintanginya selalu masuk dalam daftar box office Hollywood.

full cast and crew link :
http://www.imdb.com/title/tt1059455/fullcredits#cast

fb groups :
http://www.facebook.com/home.php?sk=…366613080&ap=1

Advertisements

CASH : Kisah Perampok Perlente dengan Bumbu Komedi (Blitz 22 Aug)

CAH-poster-low-resPernahkah Anda menonton film action seputar perampokan yang dibumbui komedi? Mungkin film Cash menjadi salah satu pilihan tontonan Anda di bulan ini. Judulnya saja sudah Cash. Pastinya korelasi aksi perampokan begitu erat dengan masalah uang. Menariknya, makna cash di film ini tidak hanya mengacu pada uang, tetapi juga sebuah julukan bagi seorang perampok perlente bertampang rupawan bernama Cash (Jean Dujardin).

Ya, Cash adalah penjahat licik dan selicin belut. Cash dikenal sebagai seorang perampok yang pandai mengelabui para penegak hukum. Dalam setiap aksinya, Cash selalu berhati-hati dan lihai melarikan diri dari polisi. Penampilannya yang perlente dan gaya menjadi topeng untuk menutupi jati dirinya. Namun suatu ketika Cash menyesal karena saudara sekaligus partner kerjanya bernama Solal, terbunuh oleh anggota gank perampok lain. Dalam keadaan bimbang, Cash pun harus mencari pengganti Solal. Akhirnya Cash menemukan penjahat ulung veteran yang dikenal jago tembak bernama Maxime Dubreuil (Jean Reno). Maxime selalu didampingi perempuan cantik bernama Garance (Alice Taglioni). Demi meyakinkan profesionalisme kerja di mata Cash, Maxime pun melibatkan perempuan cantik bernama Julia (Valeria Golino). Dengan kehadiran Garance dan Julia, Cash kian bersemangat untuk melakukan rencana perampokan selanjutnya. Tidak hanya karena tambahan kekuatan tim, tetapi juga Cash merasa betah karena tertarik kecantikan dua wanita cantik tersebut.

cash-still5

Namun, kecerdikan Cash dalam memimpin aksi perampokan akhirnya terendus oleh kepolisian. Cash pun menjadi bimbang tak kepalang. Dia berusaha menghindar dari kejaran polisi. Cash curiga bahwa aksinya dimata-matai seseorang. Cash menduga anggota timnya salah satunya anggota polisi. Siapakah sebenarnya musuh dalam selimut bagi Cash? Apakah Maxime, Garance atau Julia? Apakah Cash juga mencintai salah satu dua wanita yang jadi partner kerjanya?

bts1

Sutradara sekaligus penulis skenario, Eric Besnard menjadikan film Cash dalam adegan-adegan yang ringan tapi tidak kacangan. Sebagai film maker Prancis, Besnard mengemas Cash dengan sejumlah pertimbangan sense of art ala film-film Prancis. Terutama dari dialog antar pemain, pengarahan dramaturgi pada karakter tokoh, pengambilan gambar, dan juga plot yang cukup mengejutkan.

“Saya menulis cerita film ini boleh dibilang spontan. Tapi saya mempertimbangkan juga keinginan penonton agar merasa terhibur dan sesekali tertawa. Produser film ini ternyata menanggapi cerita saya dengan menyenangkan,” ujar Besnard. Sebagai penujang adegan, Besnard pun meminta penata musik film ini Jean Michel Bernard agar memasukan ilustrasi music seperti hasil garapan music kondang Lalo Schrifin dan Quincy Jones yang dua-duanya memang dikenal selalu sukses memadukan kreasi alunan musik dengan cerita film-film produksi Hollywood.

cash-still4

Cash menghabiskan masa syuting selama 11 minggu, dengan mengambil lokasi syuting kebanyakan di kota Paris, dan 2 minggu di kota Nice dan Monaco. Tiga kota ini terkenal indah dan inspiratif bagi para sineas Prancis. “Selama syuting, kami juga menggunakan hotel mewah saat musim liburan. Untung saja, beberapa kamar masih tersedia. Kami juga beruntung ternyata cuaca saat syuting kebetulan sedang bersahabat. Jadi, kami bisa mengambil gambar-gambar untuk film dengan nyaman dan menyenangkan,” imbuh Besnard. Saksikan Cash mulai 22 Agustus hanya di Blitzmegaplex. (yogira)

Directed by ERIC BESNARD
Starring CASH – JEAN DUJARDIN MAXIME DUBREUIL- JEAN RENO JULIA – VALERIA GOLINO GARANCE – ALICE TAGLIONI
Produce by : PATRICE LEDOUX Genre: Comedy, Crime, Thriller
Rilis di Indonesia : 22 Agustus 2009
Bahasa : French Teks: Indonesia / Inggris
Durasi : 100 min
Promotion and Publication Senimata Kreasi Komunika
CP : Yogira
Jl. Durma IV no 1 Turangga Bandung
Telp : 022 730 2920 Hp : 0817 650 9940
Sales, Distribution and Broadcast
Platinum Pictures Indonesia
CP : Oky Zayyd
Jl. Raya Gunung Sahari 44 No. A8 Jakarta Pusat
Telp : 021 625 4374
Fax : 021 626 0781
Hp : 021 9299 5700
Untuk bergabung di grup Senimata silahkan klik : http://www.facebook.com/group.php gid=70307527779&ref=search&_a=1
atau
http://www.facebook.com/l/;www.senimata.wordpress.com

INSIDE RING (Le Premier Cercle)

THELMA FILMS & ALTER FILMS presents

poster IR2 

Aksi Gangster di Negeri Prancis

 Jika Anda penggemar film gangster atau mafia, pastinya mengenal film “The Godfather,” “Godfellas,” Mobster, “Gangs of NewYork,” dan “American Gangster”. Namun, apakah Anda pernah menyaksikan film gangster ala Prancis? Jawabannya ada pada  film “Inside Ring”

“Inside  Ring” dibintangi aktor  watak Jean Reno, yang dikenal dalam film ”Leon-The Profesionnal,” “Da Vinci Code,” “Ronin,” dan “Crimson Rivers.” Dalam film “Inside Ring,” Reno harus memanggul peran sebagai penjahat kelas kakap, bernama Milo Malakian. Milo  keturunan klan Malikian. Klan ini berkembang di Prancis sebagai generasi dari imigran negeri Armenia yang mengungsi ke negeri Prancis sekitar tahun 1915.

Kepahitan hidup yang berkepanjangan secara turun-menurun dari nenek moyangnya, membuat Milo terpicu menjadi penjahat sukses.  Dia pun menjadi pemimpin gangster paling ditakuti pada zamannya. Milo memunyai  putra kesayangan bernama Anton yang diperankan oleh aktor ganteng Gaspard Ulliel (Hannibal Rising, A Very Long Engagement Best Promising Actor at the Cesars 2005). Anton adalah seorang ‘badboy’ yang hobi kebut-kebutan dengan mobil mewah, namun hatinya takluk oleh cinta perawat cantik, bernama Elodie, yang bukan berasal dari klan Malakian.

inside-ring-still 4

Bak kisah asmara Romeo & Juliet, jalinan cinta  Anton dengan Elodie tak direstui  Milo. Konflik internal pun terjadi: Perseteruan Sang anak versus Sang ayah. Siapakah yang mengalah? Anton kah yang tak pernah lelah memuja Elodie? Ataukah Milo yang bersusah payah mempertahankan dinasti keempat klan Malakian, agar tak tertular orang dari klan lain, yang justru adalah kekasih anaknya?   

Konflik kian kompleks. Ternyata, sepak terjang kejahatan Milo dan Anton sudah lama diendus-endus detektif Saunier, yang memang bersikeras ingin meringkus klan Malakian. Saunier benar-benar ingin meluluhlantakan anggota gangster Malakian yang membunuh partner kerjanya. Apakah dendam Saunier bisa terbalaskan? Lantas, bagaimanakah hubungan Milo dengan Anton selanjutnya yang dua-duanya terus menjadi buruan polisi?

inside-ring-still 1

Jika menukil dari judul filmnya, konflik dalam cerita ini boleh dibilang saling berkait di antara ego dan kepentingan masing-masing tokohnya. Ketegangan seolah terus melingkar-lingkar, baik itu ketegangan psikologis, maupun ketegangan lewat aksi-aksi thriller khas film gangster. Bedanya, kekhasan film gangster pada “Inside Ring” punya muatan lokal tersendiri yang tak bisa ditemukan dalam film gangster sejenis, khususnya dari sisi setting, art direction, serta latar belakang sosial dan budaya Prancis.

Tampaknya, sang sutradara sekaligus penulis skenario, Laurent Tuel membesut “Inside Ring” agar tampil sebagai film gangster yang berbeda dengan  film-film gangster yang sudah dikenal sebelumnya. Memang “Inside Ring” pastinya tak  selegendaris film  “The Godfather.”  Akan tetapi, Film ini memunculkan adegan-adegan aksi yang diwarnai tragedi romantik kisah cinta ala Prancis. Inilah sebuah film yang niscaya memberikan nuansa baru tentang sisi kelam dunia gangster pada zaman modern.

Jika anda penggemar berat film gangster, “Inside Ring” adalah film yang pantas Anda tonton. Lewat film ini, Anda tak hanya bisa mengenal Prancis sebagai negeri romantis, tetapi juga bisa mengenal sepenggal kisah tragis kehidupan sebuah gangster. Jadi, segera saksikan filmnya, hanya di Blitz Megaplex mulai 29 Juli. (yogira)

Screenplay by : LAURENT TUEL, SIMON MOUTAIROU and LAURENT TURNER

Directed by : LAURENT TUEL

Starring

MILO – JEAN RENO

(Cash, The Da Vinci Code, Ronin, Crimson

Rivers 1 and 2)

 ANTON – GASPARD ULLIEL

(Hannibal Rising, A Very Long Engagement

Best Promising Actor at the Cesars 2005)

 ELODIE – VAHINA GIOCANTE

(99 Francs, Lila says)

Promotion and Publication
Senimata Kreasi Komunika
CP : Yogira
Jl. Durma IV no 1 Turangga Bandung
Telp : 022 730 2920
Hp : 0817 650 9940
 
Sales, Distribution & Broadcasting
Platinum Pictures Indonesia
CP : Oky Zayyd
Jl. Raya Gunung Sahari 44 No. A8
Jakarta Pusat
Telp : 021 625 4374
Fax : 021 626 0781
Hp : 021 9299 5700

THE OTHER MAN

3-TOM_00905

Cara Bijak Melacak Jejak Selingkuh

Apa yang akan Anda lakukan jika orang yang selama ini dicintai dicurigai berselingkuh? Apakah Anda akan marah-marah? Pasrah? Atau ingin lebih dulu membuktikannya? Jika Anda bijak, tentu Anda lebih memilih cara nomor tiga. Lantas, bagaimana jika memang pasangan Anda sudah terbukti selingkuh?

Film “The Other Man” bisa menjadi salah satu kunci jawabannya. Film drama ini diangkat dari cerita pendek karya pengarang asal Jerman, Bernhard Schlink. Schilink memang dikenal sebagai pengarang yang handal dalam meramu tema sederhana menjadi cerita yang menarik dan menegangkan. Apalagi setelah cerita pendek ini dikemas dalam cerita layar lebar, maka cerita “The Other Man” semakin kuat, menyentuh, sekaligus menegangkan. Sang sutradara, Richard Eyre berhasil menyatukan kekuatan cerita dengan akting para bintang film berkaliber dunia. Mereka adalah Liam Neeson (‘Schindler’s List,’ ‘Les Miserables’ ‘Kinsey’, ‘Kingdom of Heaven’), Antonio Banderas (Interview With Vampire, Phildelphia, Desperado, Legend of Zorro,) dan Laura Linney (‘Love Actually,’ ‘Mystic River,’ The Savages’) Ketiga pemeran utama ini tampil total memainkan tokoh yang terlibat dalam kisah cinta segitiga yang dibungkus dalam konflik perselingkuhan.

11-TOM_03208

“The Other Man” berkisah tentang sepasang suami-istri: Peter (Liam Neeson) dan Lisa (Laura Linney). Hampir selama 20 tahun, kehidupan rumah tangga mereka selalu tampak harmonis. Dari hasil pernikahannya, Peter dan Lisa dikarunai putri tunggal, Abigail, yang mulai beranjak dewasa.

Peter adalah penguasaha di bidang software komputer. Sedangkan Lisa berkarier sebagai desainer sepatu terkenal, yang menuntut dirinya harus berpergian ke luar negeri. Meskipun sama-sama sibuk, keduanya berusaha hidup sebagai keluarga yang harmonis. Namun sayang, usaha pasangan ini untuk menjalani rumah tangga yang harmonis harus terbentur oleh perselingkuhan. Dan yang menjadi korban selingkuh adalah Peter.

Peter mencurigai Lisa berselingkuh dengan seorang lelaki yang tak dikenal setelah dia menemukan secuil kertas bertuliskan “Lake Como” yang terselip pada sepatu Lisa. Sementara Lisa sendiri sudah pergi ke kota Milan, Italy, dengan alasan suatu acara. Peter pun penasaran untuk melacak lebih mendalam rahasia “Lake Como,” yang menurut kata hatinya berkaitan erat dengan kepergian Lisa ke Milan. Semula Peter meminta saran kepada anaknya, Abigail tentang dugaannya ini. Namun karena hubungan ayah dan anak ini selalu tak akur, Peter dan Abigail malah jadi sering berdebat. Peter pun akhirnya nekad menyusul Lisa ke Milan untuk membuktikan kecurigaannya terhadap Lisa.

10-TOM_03012

Bak seorang detektif, sampai di Milan, Peter berusaha mencari data dan fakta seputar keberadaan Lisa dan lelaki selingkuhannya. Di kota ini, Peter pun mendapat gelagat tak enak. Dia bertemu dengan Ralph (Antonio Banderas). Peter dan Ralph sempat bertatap muka dan bahkan bermain catur dalam satu meja. Dari obrolannya, Peter berhasil memancing Ralph sehingga dia secara tak sadar mengakui berpacaran dengan Lisa. Apa tindakan Peter selanjutnya? Apakah langsung mendamprat atau terus melandeni Ralph dalam sebuah obrolan? Tak pelak, inilah film drama yang mengungkap liku-liku perselingkuhan dalam kehidupan rumah tangga dengan cara yang halus. Akting Neeson dan Banderas patut diacungi jempol. Nesson berhasil menguasai karakter Peter yang sabar, penasaran, dan berlapang dada dalam menghadapi Lisa yang dianggap sudah berkhianat. Demikian pula juga Banderas. Dia berhasil memerankan tokoh Ralph, yang santai, perlente, dan juga pandai bersilat lidah. Konflik di antara dua tokoh ini begitu halus digambarkan dalam dialog-dialog cerdas dan sesekali jenaka.

Meskipun film ini mengangkat masalah perselingkuhan, “The Other Man” tidak terjebak pada stereotipe realitas masalah selingkuh yang selama ini terjadi di masyarakat pada umumnya. Selingkuh memang bisa sangat menyakitkan, sehingga bisa menimbulkan pertengkaran dan perkelahian. Tapi situasi tersebut tak berlaku dalam film “The Other Man.” Ketegangan karena perselingkuhan tak melulu harus diwarnai dengan caci maki, sumpah-serapah atau main damprat tangan. Ketegangan karena perselingkuhan bisa dibangun dengan dialog dan kekuatan karakter pemainnya, yang tampil seperti tanpa mengeluarkan emosi berlebihan.

Jadi, apakah Anda bisa melakukannya seperti tokoh dalam film “The Other Man” jika pasangan Anda selingkuh? Jika belum bisa, tonton dulu film ini mulai 8 Juli 2009, serentak di Blitzmegaplex. (Senimata)

Other-Man-Neo

Genre : Drama
Pemain : Liam Nesson, Antonio Banderas, Laura Linney, Romola Garai, etc
Sutradara/Skenario : Richard Eyre
Produksi : Rainmark Films

Crew & Production:
Michael Drever – Producer
Haris Zambarloukos BSC – Director of Photography
Tariq Anwar – Editor
Gemma Jackson – Production Designe
Phoebe de Gave – Costume Designer

Sales, Distribution Rights Contact :

Oky Zayyd
Platinum Pictures Indonesia
Jl. Raya Gunung Sahari 44 No. A8
Jakarta Pusat
Tel : 021 625 4374
Hp : 021 9299 5700
Email : film.publisher@gmail.com
Website : http://www.senimata.wordpress.com

Publicity & Media Centre Contact :

Yogira
Senimata Kreasi Komunika
Jl. Durma IV No 1 Turangga
Bandung
Tel : 022 70 2920
Hp : 0817 650 9940
Email : film.publisher@gmail.com
Website : http://www.senimata.wordpress.com

Review Ikhsan : Mama I Love You | Setiap Anak itu Spesial

Ikhsan Mama I Love YouMasih sedikit filmmaker yang berani ber-eksperimen dengan membuat film diluar jalur tema film yang sedang laris seperti; horror, komedi, percintaan bahkan sexuality issues. Tidak dengan Rico Michael yang berani mengambil resiko dengan memotori sebuah film idealis bergenre drama keluarga. Film ini bercerita tentang sebuah kondisi dimana seorang anak tak bisa menyerap pelajaran dengan cara biasa. Kondisi tak biasa yang dimaksud adalah Dyslexia yaitu kesulitan belajar yang masih jarang diketahui sebabnya, sulit menerima pelajaran, tak dapat fokus menerima input dari luar, gangguan membaca dan gannguan matematika adalah sebagian kecil dari sekian banyak kondisi yang dialami anak ketika mengalami kondisi Dyslexia.

Ketika saya bertanya apa alasan Rico berani membuat film dengan tema seperti ini, Rico menegaskan, keinginan nya berbagi sedikit pengetahuan kepada para guru dan orang tua tentang kondisi Dyslexia. Dan yang terpenting bagi gue adalah dengan menonton Ikhsan : Mama I love You, masyarakat dapat menyerap informasi tentang bagaimana cara mengatasi dan menghadapi anak yang mengalami kondisi Dyslexia.Tambah Rico. Wow… apakah Rico tidak memperhitungkan sisi komersialnya…?

Dimulai dari pemilihan pemain yang saya rasa cukup tepat dan memiliki keseimbangan yang sempurna sehingga peran yang dimainkan sesuai dengan masing-masing karakter tokoh di film ini. Sebut saja Wulan Guritno, aktris papan atas ini di adu peran dengan pendatang baru Jesse Lantang, mereka berperan sebagai suami istri yang gundah dan sering bertengkar karena berbeda pendapat mempertahankan prinsip cara mendidik anak. Akting bintang senior dan junior tersebut hasilnya cukup memuaskan dan sangat natural, terutama Jesse, akting nya cukup baik sebagai bintang baru yang dipasangkan dengan bintang senior sekaliber Wulan Guritno. Selain dua nama tersebut banyak nama bintang senior yang ikut terlibat seperti Ibnu Jamil (guru kesenian Ikhsan), Rendi Krisna (guru olah raga Ikhsan), Fachri Muhamad (teman baik Ikhsan). Selain itu para bintang papan atas terlihat cukup harmonis dan klop ketika beradu akting dengan para bintang muda seperti M. Faruk (Ikhsan), David Saragih (Guru Bahasa Indonesia), Winnie Yanthy (teman Harun), Adam Jackson dll.

Dari jalan cerita, saya cukup puas dengan pemaparan cerita yang cukup informatif, mendidik dan menghibur karena Ikhsan : Mama I love You dibalut sedemikian rupa sehingga menjadi film yang ringan dicerna namun tidak terkesan menggurui, semua aspek dramaturgi ada dalam premis film ini. Dimulai dari pemaparan seperti apa kondisi anak yang mengalami kondisi Dyslexia sampai bagaimana cara orang tua dan guru mengatasi anak dengan kondisi tersebut. Semua terbalut rapi dengan cara yang unik sehingga semua adegan, dari adegan menyentuh, komedi sampai adegan menegangkan dapat diciptakan sang sutradara dengan baik, ya…begitulah seharusnya seorang sutrdara men-treat film nya agar film nya menarik untuk ditonton untuk semua kalangan.

Yang menjadi catatan saya adalah gaya besutan Rico yang berhasil menciptakan konflik tanpa memaparkan tokoh baik versus jahat, melainkan justru ia berhasil mengarahkan M. Faruk (Ikhsan) sebagai tokoh sentral menjadi seorang anak yang putus asa terhadap dirinya sendiri dan marah akan keberadaan nya di dunia ini. Di tambah soundtrack dari Alexa dan Kenie, menambah atmosfir haru bebaur kesedihan tak berakhir. Plot yang soft dan alur adegan yang ringan untuk diikuti tidak membuat saya ngantuk. Hal tersebut menjadi nilai plus buat film ini. Film ini sangat cocok ditonton untuk semu kalangan, tua maupun muda. (oz)

Saksikan Ikhsan : Mama I love You di Blitzmegaplex mulai 20 Juni 2008

Tali Pocong Perawan | Jadi Pocong Karena Salah Kaprah

Ketika bebearapa rumah produksi beralih trend dengan mencoba peruntungan dengan memproduksi film bergenre religi, rupanya Maxima Picture masih penasaran dengan tetap mencoba peruntungan dengan masih memproduksi film-film bertema horor mencekam. Setelah “Lewat Tengah Malam” (2007) cukup sukses menyedot penonton, kali ini rumah produksi yang dimotori Yoen K ini mengangkat tema urban legend seputar POCONG bertajuk “Tali Pocong Perawan”

Cerita film ini diawali dengan kegaduhan di kampus, ternyata ada seorang yang mati gantung diri. Adegan berikutnya muncul seorang wanita sexy bertubuh tinggi (Catherine Wilson) sedang berjalan melenggok menyusuri jalan disebuah perkantoran. Film ini diawali dengan teknik gambar yang menawan. Nampaknya Arie Azis mantan Astrada Nayato ini cukup piawai menyerap ilmu dari sang sutradara “Ekskul” yang kontroversial dan misterius itu, sehingga ketika saya menonton “Tali Pocong Perawan” saya merasa sangat termanjakan dengan teknik colour grading yang cukup kontras pada gambar di awal film itu, sayang telinga saya tidak ikut termajakan dengan scoring yang baik.

Sebenarnya saya berharap mendapatkan sesuatu yang lebih ketika saya di undang rekan saya untuk preview film ini, terutama dari materi cerita yang tidak “basi” dari sebuah horror filick yang saya tonton ini. Ternyata saya agak kecewa dengan cerita di film ini yang menurut saya sangat tidak ada yang istimewa selain teknik gambar dan warna yang cukup baik. Point of view tidak jauh dari unsur dendam dan bunuh diri. Mungkin jika tidak menghadirkan adegan-adegan panas antara Dewi Persik dan Ibnu Jamil, film ini bakalan tidak akan bertahan lama di studio 1. Ya…..menurut saya yang dijual dari film ini masih sangat konvensional yaitu sex, horror mencekam dengan scoring yang mengagetkan dan sedikit komedi. Saya tidak melihat satu pun pesan yang ingin disampaikan dalam film ini kecuali “jangan ambil tali pocong perawan nanti kamu kena akibatnya”

Nino 24 tahun (Ramon Y. Tungka), cowok pendiam yang tidak pernah bergaul. Sehari-hari hanya berkutat di kamar nya sambil surfing internet, latar belakang keluarga Nino tidak diceritakan dalam film ini. Diam diam, Nino sangat mencintai Virni, 19 tahun (Dewi Persik), cantik dan seksi, pacar Aldo, 20 tahun (Ibnu Jamil), adik nya Nino. Perasaan cinta ini makin lama tumbuh menjadi keinginan untuk memiliki. Maka Nino pun mencari cara untuk bisa mendapatkan Virni. Nino mendapat cara dari sebuah website di internet yang menjelaskan tentang pelet yang mewajibkan seseorang untuk mengambil tali pocong perawan yang meninggal sebelum empat puluh hari.

Adegan pengambilan tali pocong dikuburan yang dijaga oleh 2 orang penjaga sangat tidak masuk akal, kenapa 2 orang penjaga kuburan itu sama sekali tidak terjaga ketika Nino menggali kuburan menggunakan sekop. Akhirnya Nino berhasil membawa pulang tali pocong perawan tersebut, namun setelah mencoba ritual pelet, Nino tidak berhasil memiliki Virni. Nino geram dan memusnahkan tali pocong perawan dengan membakar nya. Malang nasib Nino, setelah memusnahkan tali pocong tersebut Nino diteror oleh hantu pocong hingga akhirnya Nino tewas. Adegan-adegan mencekam namun mudah ditebak dimulai dengan penampakan hantu pocong dan scoring yang memekakan telinga.